Subjectivity is a thing we as human cannot avoid. We are born as a subject. We don’t want to be treated as other than subject. We are human. We are subject. We are “we, he, she, I, you, and they” not an “it”.
Sometimes, we act oversubjectively to some groups of people or even to certain person. I admit I did it. Often. I realize truly it’s wrong.
Gue kuliah di F*U*. Semua mahasiswa di kampus gue juga tau, bahwa kehidupan mahasiswa diwarnai dengan feodalisme. Sekitar hampir 6 bulan yang lalu, salah satu dosen gue berkata, “Vania, kamu harus minta maaf ama dia, karena dia yang megang nilai kamu.”
I don’t want to talk about the misunderstanding that happened at that time.
Gue terus terang sangat kaget dan kecewa. Bagi gue, nilai itu penting, karena gue kuliah di jurusan ini. Bullsh*t kalo ada mahasiswa jurusan gue yang bilang bahwa dia cuma ngejar ilmu tapi ga ngejar nilai. Karena beberapa dosen2 gue juga bersikap bahwa mereka tidak peduli berapa banyak ilmu yang gue harus punya, berapa tenaga dan tetes air mata (mulai lebay hahaha) yang gue keluarkan cuma buat minta maaf atas tindakan yang tidak gue lakukan, cuma karena dia pegang nilai gue.
Ketua pendidikan gue juga selalu bilang ke gue dan temen2 gue, “BERAPA BAIK PUN nilai kalian, kalo attitude kalian jelek, kalian harus ngulang tahun depan.”
TAHUN DEPAN means nightmare.
TAHUN DEPAN means goodbye.
GILA, karena subjektivitas sangat berperan di sini. Gue mengenal salah satu dosen yang sayang sama temen gue karena mirip ama anaknya. Gue mengenal salah satu dosen gue yang sebel ama temen gue karena dia anggep temen gue nyolot (padahal menurut gue biasa aja). Dan yang paling parah dari semuanya adalah, gue mengenal salah satu dosen gue yang sebel ama temen gue karena temen gue berasal dari ras tertentu.
Gue cuma bisa menghela nafas saat gue mendengar kisah temen gue itu.
ANJING! Iya bener! Itu lebih rendah daripada ANJING. Gue kesel. Semena-mena. Karena elo pegang nilai kelulusan gue dan temen2 gue, you can crush our pride. No way, JING!
No wonder, Indonesia banyakan balas dendamnya daripada ngemajuin negara.
Pathetic! *sigh* Dosen2 itu cuma bilang “Wah, kalian semua sekarang udah enak, SAYA DULU bla bla bla bla”
Semuanya aja bilang “SAYA DULU, SAYA DULU”
Sekarang udah millenium baru, bung! Udah ga jaman lagi ngomong “saya dulu”. Orang uda tamasya ke bulan, gay uda jadi trend, haiti uda kena tsunami, ELO masi ngomong “SAYA DULU”. Tapi, kembali lagi, karena elo yang pegang nilai, kita cuma bisa tersenyum mengangguk, dan tertawa, dan sesekali komentar, “oh ya, wah”, sambil ngedumel dalam hati “Like I Care!”
So, tolong, kalo ada dosen dari kampus gue ato dari kampus lain, ato anaknya dosen deh, yang baca ni blog, tolong nilai diri lo lagi, apakah lo pantes dihormati ato nggak. Apakah lo pantas jadi seorang berjubah putih dimana manusia yang datang ke elo tuh bergantung nyawa. Apakah lo pantes ngejudge sifat orang cuma dari penampakan wajah, warna kulit, tinggi badan, suara, dan cara berbicara yang cuma lo denger ga sampe 2 jam sehari. Gue ga mau, karena orang2 yang megang nilai gue kek gitu, ntar pas gue juga megang nilai mahasiswa gue, gue malah kebawa jadi kek gitu. Amit2.
Seperti kata salah satu sahabat gue, “Ukuran yang lo ukur ke orang, itu yang akan diukurkan kepada lo”




